Pendidikan Lingkungan Berwawasan Gender Perspektif Al-Qur’an

  • Hasbi Yatim Institut PTIQ Jakarta
Keywords: Al-Qur’an, kesetaraan gender

Abstract

Penelitian ini menjelaskan perspektif Al-Qur’an mengenai pendidikan lingkungan berwawasan gender yang mengusung teori ecopedagogi humanisme teosentris, yakni teori yang memberikan gambaran tentang pendidikan ekologi bagi laki-laki dan perempuan yang terpusatkan pada aturan ekologis dari petunjuk Allah Swt. Melalui pendidikan lingkungan berwawasan gender perspektif Al-Qur’an ini diharapkan dapat membangun kesadaran dan aksi nyata peserta didik dalam upaya menjaga kelestarian dan konservasi lingkungan.

Temuan Penelitian ini mengungkap bentuk-bentuk inisiasi pendidikan lingkungan berwawasan gender dalam perspektif Al-Qur’an yang terdiri dari; Memperhatikan alam raya sebagai manifestasi dari kebesaran Allah Swt (“Aql); Proses observasi terhadap lingkungan (Tadabbur); Pengungkapan rasa syukur atas karunia lingkungan dengan upaya konservasi lingkungan (Tasyakkur); Menjadi saintis pereka cipta temuan yang bermanfaat bagi lingkungan (ulul albab); Penghormatan sebagai rasa tunduk kepada Pencipta alam raya (taskhir); Protektor alam raya (khalifah); Manifestasi atas dimuliakannya manusia (takrim). Kesemuanya tersebut dalam peran-peran sebagai; Ulin NuhaUlil Abshar; Ulul Albab; Muhsin; Takrim; Intisyar, bagi laki-laki dan perempuan.

Penelitian ini memiliki kesamaan mengenai pembahasan tentang kesetaraan gender dari manusia terhadap lingkungannya, yakni dengan: Nasaruddin Umar (2001), Muhammad Quraish Shihab (2005), dan Nur Arfiyah Febriani (2014). Serta kesamaan pembahasan tentang pendidikan lingkungan dengan Faulo Preire (1972) dan Nana Supriatna (2016).

Penelitian ini memiliki perbedaan dengan pendapat yang menyatakan bahwa kerusakan lingkungan memiliki korelasi dengan sikap dominatif laki-laki terhadap perempuan dengan para tokoh feminis seperti: Carolyn Merchant (1992), Robyn Eckersley (2001), Jean Shinoda Bolen (2004) dan Nawal Amar (2009). Penelitian ini juga memiliki perbedaan kajian dengan Adudin Alijaya (2019) yang fokus pada pembahasan konsep ekopedagogi dalam Al-Qur’an.

Metode penelitian yang digunakan dalam Penelitian ini adalah  kualitatif, sedangkan metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir Maudhu’i, Kedua metode tersebut digunakan agar menghasilkan data deskriptif melalui observasi terhadap surat dan ayat Al-Qur’an, serta sains yang terkait dengan pembahasan Penelitian, kemudian dibantu visualisasinya dengan tabel-tabel.

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2020-05-06